Live
BTC$81,604▼ 0.74%ETH$2,433▼ 0.74%SOL$105▼ 1.48%BNB$722▼ 1.26%XRP$1.31▼ 2.45%HYPE$79.85▼ 1.89%DOGE$0.0805▼ 2.29%ADA$0.2241▼ 3.24%MSTRUS$137▼ 9.56%NVDAUS$214▼ 1.43%COINUS$173▼ 5.79%TSLAUS$355▼ 2.13%BTC$81,604▼ 0.74%ETH$2,433▼ 0.74%SOL$105▼ 1.48%BNB$722▼ 1.26%XRP$1.31▼ 2.45%HYPE$79.85▼ 1.89%DOGE$0.0805▼ 2.29%ADA$0.2241▼ 3.24%MSTRUS$137▼ 9.56%NVDAUS$214▼ 1.43%COINUS$173▼ 5.79%TSLAUS$355▼ 2.13%
Back
Markets

Siapa Malone Lam? Pemuda 22 Tahun di Balik Pencurian Bitcoin Rp4,3 Triliun

Malone Lam, warga Singapura berusia 22 tahun, mengaku bersalah atas pencurian cryptocurrency senilai lebih dari US$245 juta. Ia disebut memimpin jaringan kejahatan internasional yang menargetkan pemilik kripto melalui modus social engineering dengan menyamar sebagai perwakilan Google dan Gemini.

C
By CryptoLyfe Desk
September 13, 2026 1 min read
Share
Siapa Malone Lam? Pemuda 22 Tahun di Balik Pencurian Bitcoin Rp4,3 Triliun

What Happened

Kasus ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi pengguna Bitcoin tidak selalu berasal dari blockchain, tetapi juga dari manipulasi manusia. Pengguna kripto perlu lebih waspada terhadap penipuan dan tidak memberikan informasi atau kode keamanan kepada pihak lain.

Malone Lam adalah warga Singapura berusia 22 tahun yang kini menghadapi ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara setelah mengaku bersalah dalam kasus pencurian cryptocurrency senilai lebih dari US$245 juta.

Lam disebut sebagai pemimpin jaringan kejahatan internasional yang menargetkan pemilik cryptocurrency dengan aset dalam jumlah besar.

Modusnya bukan dengan membobol blockchain Bitcoin. Kelompok ini menggunakan social engineering untuk memanipulasi korban.

Pelaku menyamar sebagai perwakilan Google dan Gemini, kemudian meyakinkan korban bahwa akun mereka sedang bermasalah. Dari situ, korban diarahkan memberikan informasi dan kode keamanan yang dibutuhkan untuk mengakses aset kripto.

Salah satu korban kehilangan lebih dari 4.100 Bitcoin pada Agustus 2024. Nilai Bitcoin yang dicuri dalam kasus tersebut mencapai sekitar US$245 juta.

Setelah mendapatkan aset tersebut, kelompok Lam menggunakan hasil kejahatan untuk menjalani gaya hidup mewah.

Mereka membeli mobil bernilai jutaan dolar, menyewa jet pribadi, rumah mewah dan pengawal. Lam bahkan menghabiskan US$569.000 hanya dalam satu malam di sebuah klub malam Los Angeles.

Lam akhirnya mengaku bersalah pada 8 September 2026 di pengadilan federal Washington, D.C. Ia menghadapi hukuman maksimum 20 tahun penjara.

Pemerintah AS juga mewajibkan Lam dan para konspiratornya membayar lebih dari US$245 juta kepada korban.

Kasus ini menunjukkan satu hal penting bagi pengguna Bitcoin: ancaman terbesar tidak selalu datang dari blockchain atau teknologi. Kadang, titik paling lemah justru manusia yang memegang akses ke aset tersebut.

Share this story

Related Stories