Live
BTC$81,579▼ 0.58%ETH$2,430▼ 0.48%SOL$105▼ 0.79%BNB$722▼ 1.08%XRP$1.31▼ 1.86%HYPE$79.86▼ 1.53%DOGE$0.0806▼ 1.99%ADA$0.2242▼ 2.35%MSTRUS$137▼ 9.56%NVDAUS$214▼ 1.43%COINUS$173▼ 5.79%TSLAUS$355▼ 2.13%BTC$81,579▼ 0.58%ETH$2,430▼ 0.48%SOL$105▼ 0.79%BNB$722▼ 1.08%XRP$1.31▼ 1.86%HYPE$79.86▼ 1.53%DOGE$0.0806▼ 1.99%ADA$0.2242▼ 2.35%MSTRUS$137▼ 9.56%NVDAUS$214▼ 1.43%COINUS$173▼ 5.79%TSLAUS$355▼ 2.13%
Back
Markets

Waspada, Pekerja IT Korea Utara Kini Pakai ‘Pemeran Asing’ untuk Lolos Wawancara Kerja

C
By CryptoLyfe Desk
September 14, 2026 2 min read
Share
Waspada, Pekerja IT Korea Utara Kini Pakai ‘Pemeran Asing’ untuk Lolos Wawancara Kerja

What Happened

Korea Utara dilaporkan menggunakan pekerja IT dari negara lain untuk tampil dalam wawancara kerja di perusahaan Amerika Serikat. Setelah posisi diperoleh, pekerjaan tersebut dapat diambil alih oleh operator Korea Utara.

Why It Matters

Risikonya bukan hanya penipuan saat rekrutmen. Setelah diterima bekerja, operator Korea Utara berpotensi mendapatkan akses ke jaringan internal, data perusahaan, source code dan informasi sensitif.

Market Impact

Skema ini dapat meningkatkan tekanan bagi perusahaan teknologi untuk memperketat verifikasi identitas, proses rekrutmen dan akses karyawan. Perusahaan juga menghadapi risiko kebocoran data, keamanan siber dan kerugian reputasi.

The Data

US$800 juta potensi pendapatan skema pekerja IT Korea Utara pada 2024

14 warga Iran ditemukan direkrut sejak 2024

US$500 per bulan bayaran kepada sebagian pekerja asing

5 negara pekerja asing yang dikaitkan dengan metode ini: Iran, Lebanon, Suriah, Afrika Selatan dan Arab Saudi

2 pekerja dilaporkan berhasil memperoleh tawaran kerja dari perusahaan AS

CryptoLyfe View

Ancaman siber kini tidak selalu dimulai dari malware atau peretasan. Identitas palsu dalam proses rekrutmen juga dapat menjadi pintu masuk ke sistem perusahaan. Verifikasi siapa yang berada di balik layar menjadi semakin penting.

Korea Utara dilaporkan memiliki cara baru untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan Amerika Serikat tanpa menunjukkan identitas sebenarnya.

Jaringan tersebut disebut menggunakan pekerja IT dari negara lain untuk tampil dalam wawancara kerja. Setelah posisi berhasil didapatkan, pekerjaan tersebut kemudian dapat diambil alih oleh operator Korea Utara.

Menurut laporan NBC News, pekerja dari Iran, Lebanon, Suriah, Afrika Selatan dan Arab Saudi telah dikaitkan dengan metode tersebut.

Sebagian pekerja asing disebut direkrut melalui LinkedIn dan mendapatkan bayaran sekitar US$500 per bulan dalam cryptocurrency untuk membantu proses wawancara.

Perusahaan keamanan siber Flare menemukan sedikitnya 14 warga Iran direkrut sejak 2024. Setidaknya dua orang dilaporkan berhasil mendapatkan tawaran pekerjaan dari perusahaan Amerika.

Cara ini menjadi penting karena perusahaan AS sebenarnya sudah meningkatkan pemeriksaan terhadap kandidat yang dicurigai terkait Korea Utara.

Sebelumnya, jaringan tersebut diketahui menggunakan identitas warga AS, alamat domestik dan laptop yang ditempatkan di rumah pihak ketiga untuk membuat pekerja Korea Utara terlihat seperti karyawan yang bekerja dari Amerika.

Risikonya tidak berhenti pada penipuan proses rekrutmen. Setelah mendapatkan pekerjaan, operator dapat memiliki akses ke jaringan internal, data perusahaan, source code atau informasi sensitif lainnya.

Pemerintah AS memperkirakan skema pekerja IT Korea Utara menghasilkan hingga US$800 juta pada 2024. Pendapatan tersebut diyakini menjadi salah satu sumber pendanaan bagi program senjata Korea Utara.

Artinya, bagi perusahaan teknologi, proses verifikasi karyawan kini bukan hanya soal memastikan seseorang benar-benar sesuai dengan CV. Mereka juga harus memastikan siapa sebenarnya yang berada di balik layar.

Share this story

Related Stories